• Breaking News

    Jumat, 19 Oktober 2018

    Dirman Warga Sukabumi Dikurung Di Kandang Bambu

    Dirman Warga Sukabumi Dikurung Di Kandang Bambu

    https://rantaiqqinfo.blogspot.com/2018/10/dirman-warga-sukabumi-dikurung-di.html


    Orang tua Dirman tidak ada pilihan lain, mungkin begitu yang terbersit dalam pikiran pasangan suami istri (pasutri) Sahuni (70) dan Oyot (60). Mereka terpaksa mengurung Dirman (35) putranya sendiri di sebuah bangunan bambu mirip kandang domba karena Dirman mempunyai penyakit gangguan kejiwaan.

    Pasutri asal Kampung Babakan Tonjong, RT 10 RW 07 Desa Tonjong, Kecamatan Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat ini terpaksa mengurung putra sulungnya itu karena menderita gangguan kejiwaan. Dirman tinggal di kandang tersebut sudah hampir 4 tahun. Sang ayah, Sahuni, bercerita jika Dirman kerap mengamuk dan merusak barang milik keluarga dan tetangganya. Meski tidak tega, Sahuni mengaku tidak ada pilihan lain.

    Kalau tidak begini kami lebih repot, dia merusak barang-barang di rumah atau milik tetangga. Dia mengamuk dan marah-marah tanpa ada alasan, tutur Sahuni didampingi sang istri ketika ditemui di rumahnya, pada hari Minggu (5/11/2017).

    Perlahan Sahuni menghela nafas, tangannya memegang dada seolah merasa berat melanjutkan cerita tentang putranya itu. Sudah 12 tahun dia mengalami kondisi seperti itu, karena kelakuannya yang sering merusak itulah akhirnya saya dan istri memutuskan untuk mengurung Dirman, lanjut Sahuni. Berbagai cara dilakukan pihak keluarga, baik alternatif sampai pengobatan secara medis. Dirman pernah menjalani pengobatan Rumah Sakit Jiwa di Bogor. Namun karena kondisi kejiwaannya tidak kunjung membaik, akhirnya dia dipulangkan.

    Kondisi tempat Dirman dikurung berukuran kurang lebih 1,5x2 meter persegi, tingginya hanya satu meter dan beralaskan tanah. Lokasi bangunan itu berada di belakang rumah orang tuanya. Sebuah terpal berwarna oranye menjadi pelindung dari panas dan hujan.

    Umi unggal poe ngurusan daharna, sa aya aya we da arek kitu kieu ge da ka budak sorangan. Teteup we nyaah, Ibu yang setiap hari ngurusin makannya, seadanya mau bagaimana lagi namanya ke anak sendiri. Tetap saja sayang, timpal Oyot ibunda Dirman.

    Pasutri itu menjelaskan jika kondisi Dirman sudah diketahui pemerintahan setempat, namun mereka menolak andai kata Dirman harus dievakuasi dari tempat itu. Umi moal merean lamun budak umi dibawa kamamana, kajeun didieu umi anu ngurusan, ibu enggak bakalan ngasih kalau anak ibu mau dibawa ke mana mana, biar di sini ibu yang ngurusin, sambung Oyot.

    Alasan Sahuni dan Oyot enggan Dirman di evakuasi karena khawatir menjadi beban baru, karena perawatan medis yang pernah dijalani Dirman tidak membawa hasil positif. Keduanya malah berharap pemerintah mau membangunkan ruangan lebih untuk Dirman di belakang rumah. Untuk keperluan sehari-harinya kedua pasutri itu siap menjaga dan mengasuh Dirman. Wios umi anu ngurusan sapopoena, Biar ibu yang urus setiap harinya, tutup Oyot.

    Penderitaan Dirman (35) berakhir. Warga Kampung Babakan Tonjong, RT 10 RW 07 Desa Tonjong, Kecamatan Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat ini bisa menghirup udara segar setelah lima tahun terkurung kandang bambu dekat rumahnya. Setelah komunikasi yang alot dengan keluarga, Dirman yang mengalami gangguan kejiwaan ini akhirnya berhasil dibebaskan petugas dari Panti Aura Welas Asih, Dinas Sosial, PSBL Phalamarta dan Puskesmas Citarik.

    Detik-detik pembebasan Dirman berlangsung dramatis. Pria yang bertahun-tahun dalam posisi duduk itu terlihat kesakitan saat petugas mengeluarkannya dari pintu atas kandang karena sudah lama duduk dan tidur disana. Saya merasa haru saat melihat Dirman keluar dari kurungan, kita langsung mandikan dan rambutnya yang gondrong kita cukur, kata Deni Solang, ketua Panti AWA kepada sejumlah wartawan lokal ditempat, pada hari Selasa (16/10/2018).

    Keluarga disebut Deni terpaksa memasung Dirman karena kerap mengamuk di kampungnya. Meski begitu penolakan keluarga juga cukup kuat karena tidak bisa jauh dari sosok pria tersebut. Kita yakinkan keluarga, sebelum pembebasan ini setiap Minggu kita tengok Dirman bawa beras, mie instan dan uang sekedarnya. Selama itu pula kami membujuk keluarga agar mau menyerahkan perawatan Dirman kepada pihak panti, jelas dia.

    Dirman rencananya akan menjalani pengobatan terlebih dulu di RS Marzuki Mahdi, Bogor. Setelah itu dia akan mendapat pelatihan di PSBL Phalamarta Cibadak. Hal ini diungkap Kepala PSBL Phalamartha Neni Riawati. Pelatihan dan keterampilan akan diberikan kepada Dirman usai menjalani pemeriksaan medis di rumah sakit kejiwaan tersebut.

    Dirman akan kami berikan pengobatan terlebih dahulu di Rumah Sakit Marzuki Mahdi Bogor, setelah itu akan dilakukan rehabilitasi mental di Panti AWA Palabuhanratu. Kalau sudah benar-benar kondisi kejiwaannya pulih baru akan kita kembalikan ke keluarganya, jelas Neni.

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Pengetahuan

    Gaya Hidup

    Pendidikan